Sudah setahun belalu kekasihku, tapi sakitnya masih begitu menyengat. Hari itu adalah hari terburuk bagi kita. Dimana pedang yang bernama norma menyayat-nyayat cinta kita. Kita terhempas kesudut. Mulut kita yang menganga disumpal kain agama dan susila hingga penuh. Tak ada pembelaan darimu dan dariku pada hari itu. Kerana norma, agama dan susila itu telah membungkam semua kata.
Kita adalah lelaki dursila, najis dan penuh noda yang diadili oleh moral. Kita terhempas ke jurang yang dalam. Luka, lemah, menghancurkan semua bangunan moral yang telah kita dirikan dengan bangga. Sungguh, aku sangat takut kehilanganmu, hingga matilah seluruh saraf di tubuhku. Aku tak bisa lagi menjadi pahlawanmu, karena hari itu hilanglah kekuatanku seiring dengan matinya sebuah harapan. Aku adalah drakula yang kehilangan taring, macan yang kehilangan cakar, rajawali yang kehilangan sayap, dan perkutut yang kehilangan bunyi.
Ah... aku pasrah kekasihku, jika memang hari itu aku harus kehilanganmu. Aku rela! Bawalah jiwa dan hidupku bersamamu. Karena jika hari itu aku melangkah pergi meninggalkanku, maka tubuhku ibarat tunggul kayu yang kosong didalamnya.
Tapi... ternyata semua tidak pernah berakhir. Cinta menguatkan kita bertahan dalam kelemahan, cinta membuat kita rela mati dalam kecintaan kepada hidup, cinta membuat kita rela terhina, diinjak-injak dan dibuang.
Hari ini, marilah kita mendekati Tuhan dengan penuh keinsafan. Sebab hanya tuhan yang maha mendengar 'rintihan dan doa', 'kelu dan kesah','mohon dan maaf'. Hari ini, aku mendapatkan tubuhmu saat mataku terbuka. Maka apa yang ingin keluar dari bibirku adalah puja dan puji bagi Tuhan. Dalam nafasmu yang kuciumi dengan cinta, kurasakan kasih Tuhan yang damai menyusup ke celah liang romaku.Sesungguhnya semua itu adalah kuasa Tuhan.
Janganlah kau benci hari itu kekasihku. Kerana hari itu telah mengajar kita erti kehidupan sebenar.Dan tentang betapa sayangnya Tuhan kepada hambanya, betapa berharganya sang kekasih, betapa besarnya pengampunan yang diberikan kepada kita dan betapa setianya sahabat-sahabat kita.
Mereka, sahabat-sahabat tersayang adalah seberkas sinar. Dalam pangkuan mereka kita berteduh. Lemah memang, tapi mereka menyinarinya dengan kehangatan. Kisah, sakit dan luka ini kusembunyikan dalam genggaman para sahabatku. Dalam remuk hati mereka memeluk kita, dalam tangis mereka menghapus air mata kita, dan dalam harapan mereka memanjatkan doa-doa untuk kebersamaan kita.

No comments:
Post a Comment